HIRUP

HIRUP
mulih ka jati, mulang ka asal

Kamis, 15 November 2012

Walisongo











WALISONGO "Walisongo"adalah julukan sembilan orang wali penyebar agama Islam di Jawa. Masing masing adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan sebagai guru-murid. Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal. 

 Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan. Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Kerajaan Majapahit yang adalah kerajaan yang bernafaskan Hindu-Budha dalam budaya Nusantara yang beralih pada kebudayaan Islam. Walisongo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

 Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai "tabib" bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai "paus dari Timur" hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha Maulana Malik Ibrahim Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malahmenyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. 

Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. 

Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik. Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. 

Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya. Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur. Sunan Ampel Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. 

Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang). Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. 

Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M. Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah "Mo Limo" (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk "tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina." Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya. 

 Sunan Giri Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya--seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma). Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai. Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah "giri". Maka ia dijuluki Sunan Giri. Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. 

Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata. Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa. Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau. Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. 

Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam. Sunan Bonang Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit. Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban. Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. 

 Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga. Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). 

Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang. Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbah (peneguhan). Sunan Kalijaga Dialah "wali" yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam. Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam ('kungkum') di sungai (kali) atau "jaga kali". Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab "qadli dzaqa" yang menunjuk statusnya sebagai "penghulu suci" kesultanan. 

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. 

Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. 

Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak. Sunan Gunung Jati Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii). Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. 

Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya "wali songo" yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. 

Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.n Sunan Drajat Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. 

Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog --pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan. Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah "berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang'. Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin. 


 Sunan Kudus Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali --yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. 

Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti "sapi betina". Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang. Sunan Muria Ia putra Dewi Saroh --adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. 

Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan Sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

Papancen ti Kolot Urang





Papancen ti Kolot Urang

Asmarandana Eling eling mangka eling Rumingkang di bumi alam Darma wawayangan bae Raga taya pangawasa Mun kasasar nya lampah Napsu nu matak kaduhung Badan anu katempuhan Balakbak Aya warung sisi jalan rame pisan, Citameng Awewena luas luis geulis pisan, ngagoreng Lalakina lalakina leos kapipir nyo'o monyet, nyanggereng Dangdanggula He Barudak poma sing areling sing nyaah ka indung ka bapa Maraneh teh matak hese Komo nu jadi indung Kahesean kaliwat sakingti keur di kandungan Matak hese wungkul Mun dengdek kukulinciran Waktu maneh gubrag gumelar ka lahir Indung teh boa ajal. Durma Moal ngejat sanajan ukur satapak Geus di pasti ku jangji Mun tacan laksana numpes musuh sarakah Henteu niat seja balik najan palastra Mati di medan jurit. Gambuh Kutan kitu ari maung Simana kaliwat langkung jalmi jalmi warni warni Seueur anu ngoplok bujur Bawaning sieun di kokos. Gurisa Waktu barudak keur mijah Arulin semu barungah Ger hujan gede pohara Barudak breng lalumpatan Ngiuhan di bale desa Ngadago raatna hujan. Juru Demung Mungguh nu hirup di dunya Ku kersaning Anu Agung Ku kersaning Anu Agung Geus pinasti panggih Geus pinas tigeus pinasti panggih Jeung dua rupa perkara Senang paselang jeung bingung. Kinanti Budak leutik bisa ngapung, Babaku ngapungna peuting, Ngalayang kakalayangan, Neangan nu amis-amis, Sarupaning bungbuahan, Naon wae nu kapanggih. Ladrang Aya hiji rupa sato leutik, Engkang-engkang sok luluncatan di cai, Ari banguna rek sarupa jeung lancah. Lambang Urang kudu inget pisan Nya di ajar di sakola Masing geura geura bisa Sing inget ka indung bapa Maskumambang Hey barudak kudu mikir tileuleutik, maneh kahutangan, ka kolot ti barang lahir, nepi ka ayeuna pisan. Mijil Mesat ngapung putra sang Arimbi, Jeung mega geus awor, Beuki lila beuki luhur bae, Larak lirik ningali ka bumi, Milari kang rai, Pangeran Bimanyu. Pangkur Seja nyaba ngalalana Ngitung lembur ngajajal milangan korihenteu puguh anu dituju Balikan paman sadayanu timana tiluan semi nu rarusuh Lurah begal ngawalonan Aing ngaran Jayapati Pucun Utamana jalma kudu rea batur Keur silih tulungan Silih titipkeun nya diri Budi akal lantaran ti pada jalma Sinom Sinom nu jadi piwulang Piwulang ka murang kalih Anu eukeur sarakola Mambrih salamet nya diri Ingetkeun beurang peuting Tungkus dina jero kalbu Keur conto salalawasna Kaitkeun di jero ati Ulah pisan hirup tinggal tiwiwaha Wirangrong Deudeuh teuing nu prihatin Rukmantara keur ka bendon Sedih manahna kalangkung Henteu eureun eureun nangis Angkat sakaparan parankawas anu eukeur gundam. Magatru Majalaya, Ciparay, Banjaran, Bandung, Kopo, Ronggo, Cisondari, Cicalengka, Ujungberung Rajamandala, Cimahi, Leles, Limbangan, Tarogong.

Senin, 27 Agustus 2012

Baduy Message


gunung teu meunang di lebur

lebak teu meunang di ruksak

larangan teu meunang di rempak

buyut teu meunang di robah

lojor teu meunang di potong

pondok teu meunang disambung

nu laen kudu di laenkeun

nu ulah kudu di ulahkeun

nu enya kudu dienyakeun
mipit kudu amit

ngala kudu menta

nyaur kudu diukur

nyabda kudu di unggang

ulah ngomong sageto-geto

ulah lemek sadaek-daek

ulah maling papanjingan,,

Kamis, 09 Agustus 2012

Papancen



Lambang falsafah Urang Sunda tina Awi
- Ulah pucuk awian ‘nuduhkeun jelema teu puguh janjina, luak leok teu puguh tangtungan’.
- Kawas bujur aseupan ‘jelema nu teu bisa ngadalian diri, nepi ka teu ngabogaan katenangan hirup’
- Moal ditarajean ‘teu sieun nyanghareupan hirup’
- Sagolek pangkek, sacangreud pageuh ‘jelema anu sok tigin kana jangjina’ sarua jeung ngadek sacekna, nilas saplasna’
- Bobo sapanon carang sapakan ‘aya wae kakurangan = Tak ada gading yang tak retak’
- Lodong kosong ngelentrung ‘jelema nu loba nyaritana tapi teu eusian’
- Buku juga dijadikan perlambang ‘ manusa kudu inget kana batas kahirupan’
- Inggis batan maut hinis ‘kacida matak inggisna’
- Maut hinis ka congona ‘diibaratkeun ka jelema nu hirupna susah di kakolotan’
- Biwir nyiru rombengeun ‘jelema nu teu bisa neundeun rusiah, biasana dilarapkeun ka awewe’
- Pokrol bambu ‘jelema mah kudu bisa nyanghareupan sagala masalah dina kaayaan nu tenang, ngarah bisa survive’
- Anak mah ulah siga anak angklung ‘ulah joledar ka kolot’
- Indung mah siga angklung ‘ibu lebih sayang dan selalu ingat kepada anaknya, walaupun anaknya lupa kepada orang tusanya’
- Elmu angklung ‘Kolot wajib ngadidik jeung ngaping kanu jadi anakna ku elmu pangaweruh, kalauan, etika, jeung estetika supaya jadi jelema anu bageur’
- Peunggas rancatan ditinggalkeun ku jelema nu dijadikeun tanggelan’
- Kudu nepi ka paketrok iteuk ‘kudu nepi kakolot’
- Matak tibalik aseupan ‘awewe nu teu bisa masak tercela’


- Meungpeun carang ku ayakan ‘ pura-pura tidak tahu terhadap perbuatan yang tidak baik’
Hirup kumbuh jeung manusa kudu lir ibarat awi jeung gawirna ‘harus saling memperkuat, mendukung, tolong menolong’
- Tamiang meulit ka bitis ‘malindes ka diri sorangan = perbuatan mencelakan orang lain tapi hasilnya kepada diri sendiri
- Leuleus jeujeur liat tali ‘lentur dalam menghadapi permasalahan’
- Bubu ngawaregan cocok ‘memberi nasihat kepada orang lain untuk mengeuntungkan diri sendiri
- Pager doyong aya gebrage ’gotong royong di masyarakat’
- Nu burung diangklungan nu edan didogdogan ‘nu salah dibenerkeun beuki kacida salahna’
- Nete taraje nincak hambalan ‘ harus bertahap’
- Ulah jiga meulah awi ‘sikaya makin kaya si miskin makin miskin adanya korban ketidakadilan’
- Ulah ulin dina bebekan awi ‘jangan bermain dengan pekerjaan yang akan mencelakakan’
- Pindah cai pindah tampian ‘dapat menyesusikan diri’
- Kawas awi sumear di pasir ‘harus mempunyai pendirian dan bersatu dengan masyarakat sekitar’
- Ngadu angklung ‘berkumpul dan berbincang hanya untuk menghabiskan waktu’
- Asup kana bubu ‘masuk ke dalam suasana yang sangat sulit untuk menghindar’



- Awi = Ajining Wiwitan Ingsun Medal ‘ manusia hidup ada yang melahirkan secara syareat dan hakikat’
- Kudu neangan galeuh bitung ‘; pasrah dalam kekosongan’
- Puhu nyurup ka tungtung, congo amprok kana bonggol ‘lingkaran hidup yang berkesinambungan’
- Urang dipasihan iwung, iwung elmuning sang awi, iwung kersaning awina, iwung kawasaning awi, rungu paningal awina, iwung andikaning awi ‘Adanya keterkaitan antara yang dicipta dengan sang Pencipta’
- Awi temen ngeluk tungkul nungkulan buku pribadi nulisna make hinis ‘Jatining diri’
- Bisi teu inget ka ruas, sieun hinis salah nurih, nurihna Ruh-Asma - Allah ‘selalu ingat dengan cara berdoa kepada Allah’
- Dina buku aya mata, keur maca buku pribadi ‘mata hati selalu tidak pernah tidur’
- Kudu ngeusian awi ku uyah ‘Yahu - uyah’


- Leuweung kaian, gawir awian, legok balongan, datar sawahan ‘Proporsional’.

1. Ayakan mah tara meunang kancra ‘hasilnya tidak akan jauh dengan kemampuan’
2. Nyiuk cai ku ayakan ‘mengerjakan sesuatu yang sia-sia’
3. Dagang oncom rancatan emas ‘bekerja berlebihan tapi tidak sepadan dengan hasilnya’


 KIDUNG PITUTUR KA OPAT "

Amit Ampun Nun Paralun Ka Gusti Nu Maha Suci 
Neda Pangjiad Pangraksa Para Abdi-Abdi Seni 
Seja Ngaguar Laratan Titis Waris Nini Aki 

Ngembatkeun Jalan Laratan Katampian Gesan Mandi
Kaleuwi Sipat Tahunan Leuwi Nu Ngaruncang
Diri Diri Anu Sakiwari

Rek Muru Lurung Tujuh Ngaliwat Ka Pajajaran 
Bongan Hayang Pulang Anting 
Padungdengan-Padungdengan Jeung Usikna Pangancikan
Pun …… Sapun……

Sampurasun…… 
Ka Rumuhun Ka Hyang Prabu Siiliwangi 
Nu Murba Di Pajajaran 
Pangauban Seuweu Siwi Nu Gelar Di Tatar Sunda 
Muga Nyebarkeun Wawangi 

Run Turun Bayu Rahayu Bayu Tresna Bayu Asih 
Bayu Mawat Kangaruyan, Bayu Mawat Kaelingan 
Sakur Nu Kaliliwatan 
Sakur Nu Katitincakan 

Urang Buka Tutungkusan Nu Kahalang Ku Pipinding
Dina Gebang Sewu Lungkar 
Dina Tulis Titis Tulis Maca Uga Na Waruga
Atra Setra Kanti Sukma 

Amin Ya Robbal Alamin 
Mugi Gusti Nangtayungan

RAJAH LUTUNG KASARUNG

Allohuma Umur Dunya
Salamet Berekah Alloh
Naga Herang
Naga Lenggang
Naga Pangawasa Alloh
Turun Ti Perebu
Disanggap Ku Guru Ingra
Di Tampek Ku Perdawati
Dangdayang Srinawati
Kami Lain Sri Sasiki Dua Siki
Sagedeng Dua Gedeng
Sacangci Dua Cangci
Saranggeuy Pareanana
Reana Saratus Lobana Sarebu
Kagungan Gusti Cirebon
Seuweu Leuweung Mawa Reuneuh
Anakan Memeh Lakian
Rincik-Rincik Ringkak-Ringkak
Nyi Beuti Manik Nyi Akar Kawat







1. Kenapa Ada Perintah Rukuk dan Sujud?
Menurut penelitian, sel darah merah (HB) mengalami penurunan rata-rata setiap 5 jam. Pantas saja Allah menyuruh kita Rukuk dan Sujud (maksudnya Shalat) minimal 24 jam : 5 jam = Minimal 5 kali shalat sehari. Untuk menerima wahyu shalat, Nabi Muhammad di Isra’ mi’raj kan karena sangat pentingnya shalat tersebut. Jadi, Allah menciptakan manusia beserta cara pemeliharaannya karena Allah Maha Tahu akan fundamental setiap manusia. Di sini kita harus menyadari bahwa Allah itu maha pemurah, maha penyayang kepada setiap manusia. Dan kita harus sadar bahwa Rukuk dan Sujud itu atau Shalat itu merupakan kebutuhan yang mendasar bagi setiap manusia. Rahasia gerakan shalat dan hubungannya dengan sistem saraf, akan dijelaskan secara rinci dan logis pada bab selanjutnya.

2. Kiat Hidup Sehat
Dari hasil penelitian (pemikiran, pengamatan, dan penerapan) dikatakan bahwa jika kita ingin hidup sehat tanpa obat ingatlah beberapa hal berikut ini.
    1. Jaga pikiran. Pikiran yang keluar dari kening kita yang merupakan titik/ area sujud harus dijaga dengan baik. Pikiran yang ruwet akan mengacaukan sistem yang ada di tubuh kita, baik itu sistem pencernaan, emosional, jantung, atau sistem panas/elektrik tubuh kita. Satu saja elemen sistem yang kacau di tubuh kita akan menyebabkan organ tubuh ada yang kurang berfungsi, lama-lama malah tidak berfungsi. Hal ini dapat dimengerti karena Allah menciptakan manusia sebagai mahluk yang sangat sempurna. Bagaimana cara terbaik menjaga pikiran? Saya rasa, Bapak/Ibu pasti tahu, dan bisa dipelajari dari orang yang ahli di bidang ini. Yang penting, berusaha meminimalisir bahkan meniadakan sesuatu yang memicu kita berpikir ruwet/kusut/complicated, di antaranya: jangan mengerjakan pekerjaan di luar batas kemampuan, mengerjakan tugas dengan serius dan sistematis serta harus sabar, dan jangan berbohong.
    2. Jaga makanan. Jangan membiasakan diri dengan makanan yang walaupun halal tetapi akan menyebabkan tumpukan lemak jenuh dan asam urat/ purin dalam tubuh kita. Makanan seperti jeroan, lalapan tertentu, atau nasi yang berlebihan akan menyebabkan terjadi pengapuran yang akan melapisi sistem saraf di tubuh kita, sehingga sinyal elektrik dari otak/pikiran kita tidak dapat disampaikan dengan sempurna ke titik ujung saraf. Akibatnya, pasti ada organ tubuh kita yang kurang berfungsi. Dalam kitab suci Al-Qur’an sebenarnya sudah ada jenis makanan, minuman, buah-buahan, sayuran yang terbaik seperti madu, daging burung/ unggas, ikan laut, minyak zaitun (tanpa kolesterol), kurma, apel, anggur, dan sawi. Di samping itu, sebaiknya kita menjaga sumber dana yang akan dibelikan untuk makan. Artinya, untuk mendapatkan keberkahan yang sempurna, sumber dan penggunaan dananya harus halal dan baik kualitasnya.
    3. Jaga kelakuan. Kelakuan sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Kelakuan yang buruk, terutama tidak bisa menjaga kemaluan, dapat mendatangkan penyakit. Alat vital (kemaluan), terkadang lebih berpengaruh daripada alat yang sangat vital, yaitu OTAK. Untuk itu, kita harus menyadari cara mengendalikan kelakuan kita. Kalau Aa Gym, mengembangkan aplikasi Manajemen Qolbu; Steven Covey mengembangkan 7 kebiasaan yang sangat efektif dalam meningkatkan kualitas hidup kita, bagaimana kalau kita mengembangkan manajemen nafsu? Steven Covey menyebutkan bahwa salah satu kunci sukses adalah kita diharuskan membiasakan untuk build the relationship. Bukankah ini sama dengan Hablum minan-nas, hubungan baik sesama manusia, melampaui batas/sekat golongan, suku bangsa. Kemudian kebiasaan yang ke 7 adalah sharpen the saw, yang maknanya, konsisten dan sabar dalam kebiasaan yang baik
   4. Jaga kelenturan. Daud adalah model manusia perkasa, senang puasa, berburu/ mengembara. Sudah pasti tubuhnya tidak tersalut oleh lemak jenuh, asam urat, dan sangat lentur. Sistem elektrik di tubuhnya sangat sempurna, sehingga bisa menyalurkan atau menghasilkan panas yang sangat tinggi di telapak tangannya, bahkan, dalam suatu riwayat, besi pun bisa lunak di tangannya. Kelenturan tubuh, sebenarnya, dapat dijaga dengan beberapa cara. Misalnya, yoga, balet, dan olah raga lainnya. Namun, menurut penelitian nara sumber, cara yang terbaik adalah shalat. Tetapi shalat yang bagaimana? Nanti akan dijelaskan secara rinci pada hubungan shalat dengan penjagaan kelenturan urat saraf.
   5. Jaga pakaian. Dalam Al-Qur'an, sebenarnya, sudah ada perintah untuk orang yang kualitas imannya tinggi, terutama wanita, untuk menjaga auratnya dengan cara berpakaian yang longgar, menutupi tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya (kerudung). Kenapa wanita? Kalau kita mau berpikir dan meneliti secara seksama, wanita itu adalah mahkluk yang sangat sensitif, sangat indah, sangat lentur. Apabila ingin menjaga keindahan, kelenturan, dan sensitivitasnya, coba perhatikan dan aplikasikan cara berpakaian yang terbaik. Sengatan matahari secara langsung akan menyebabkan kulit kering karena keringat langsung menguap tanpa terhalang oleh kain. Kulit yang kering akan merusak sistem keringat, sehingga saraf akan menjadi kering. Yang berbahaya, jika ada saraf yang di leher, di pangkal lengan, atau di ujung jari kering, berdasarkan penelitian, akan menyebabkan sistem pencernaan terganggu, liver bengkak, sakit perut, sakit typhus, atau susah buang angin. Jika yang kering sarafnya di pangkal/bagian lengan, akan mengakibatkan terganggunya sistem reproduksi. Ini akan dituangkan secara rinci mengenai gerakan wudhu yang diimplementasikan dalam teknik pijat untuk menjaga fungsi saraf. Maaf, ini tidak ada universitasnya. Ini hanya berdasarkan pengalaman nara sumber selama mengobati dirinya dan orang lain. Pakaian yang sempit pada wanita, terutama BH (Breast Holder), akan menyebabkan saluran lemak, lendir, cairan tubuh, dan pipa darah menjadi tersumbat. Lama-lama menggumpal dan mengeras, bahkan membusuk sehingga merusakjaringan saraf. Bakteri/virus akan menyebar ke mana-mana merusak organ tubuh yang lain, tergantung ke mana kabel-kabelnya/urat saraf dan pipa darahnya tersambung atau mengalir. Jadi, cara berpakaian sangatlah berpengaruh terhadap kesehatan kita. Ikat pinggang yang kencang merusak saraf di pinggang, jam tangan kencang merusak saraf di pergelangan tangan, cincin sempit merusak saraf di jari tangan kita. Karena sangat sempurnanya sistem saraf di tubuh kita, sehingga harus dijaga setiap titik di tubuh kita. Jangan ada urat saraf yang terjepit, kering, busuk, atau putus. Begitu pula kalau tubuh kita sering kedinginan karena ruangan ber-AC. Dari hasil pengamatan nara sumber, banyak sekali yang mati rasa pada ujung saraf di tengkuk dan pundak, serta pinggang karena lemak jenuh yang ada di saluran lemak dan serat daging menjadi beku, sehingga menyebabkan aliran darah tersumbat, kemudian sistem panas tubuh tidak bekerja optimal, bahkan sistem keringat tidak berfungsi. Kalau banyak kabel yang mati rasa maka ada organ tubuh kita kurang berfungsi. Yang bahaya, jika saluran air lebih yang ada dalam paru atau serat daging yang tersambung ke saluran ginjal tersumbat, akan menyebabkan paru-paru basah dan sel paru-paru bisa membusuk, atau minimal kedinginan. Tidur terlalu lama pada malam hari yang lembab, menyebabkan tersumbatnya saluran air lebih ini, dan banyak saraf di pundak, terutama bagian belikat akan terhimpit oleh berat badan kita, sehingga banyak saraf yang kurang berfungsi. Pantas, kita dianjurkan untuk bangun malam hari melakukan shalat tahajud untuk menjaga kelenturan tubuh dan mencegah terjadinya sumbatan.

3. Semua Penyakit Dapat Dicegah
Lima kiat di atas sangat sederhana dan mudah diingat tetapi sulit dilaksanakan. Oleh karena itu, harus dibiasakan sejak anak-anak. Memang, kita harus meyakinkan diri kita sendiri bahwa Semua Penyakit ada Obatnya. Namun, ungkapan ini sebaiknya kita modifikasi menjadi, "Semua Penyakit dapat dicegah dengan cara yang sederhana. Yaitu, dengan membiasakan diri menjaga pikiran, makanan, kelakuan, kelenturan, dan pakaian." Untuk menjadi sehat, sebenarnya, murah biayanya. Kalau sudah sakit parah, mahal biayanya, bahkan bisa ludes hartanya. Salah satu pasien yang gagal ginjal mengeluh kepada nara sumber, janganlah sampai diberi Penyakit seperti ini. Duit segudang pun bakalan beak(ludes). Dan hasil pengamatannya, orang sakit gagal ginjal, sebenarnya, penyebabnya sederhana saja, yaitu mulanya kabel/saraf pengatur kerja ginjal terjepit lemak yang mengeras, sehingga perintah otak tidak tersambung. Keadaan ini tambah parah karena sistem keringat tidak normal, yang menyebabkan ginjal bekerja keras, kemudian dampak antibiotik yang mengkristal seperti pecahan beling/ujung jarum menggores dinding ginjal dan menyebabkan dinding ginjal terluka/infeksi. Belum lagi jika saluran kemih pun tersumbat, seperti kejengkolan, makin memperparah fungsi ginjal. Jika saluran air dari paru-paru ke ginjal tersumbat, dapat menyebabkan ginjal kering dan lama-lama mengerut. Sebenarnya, gerakan shalat yang tertib dan teratur waktunya dapat menjaga sistem ginjal ini Rukuk yang agak ditekuk maksimal, agak lama, dan duduk di antara dua sujud yang semua jari kaki kiri dan kanan ditekuk, akan dapat menjaga sistem ginjal dan sistem lainnya.

4. Formula Penyelamat Dunia dan Akhirat
Bagaimana caranya kita selamat dunia dan akhirat? Nara sumber menyampaikan pemikiran ini, yang mungkin berupa anjuran, sebenarnya ditujukan terutama untuk dirinya, berupa formula 5 S + 1 I , yaitu:
S1 = SHALAT
S2 = SABAR
S3 = SHAUM alias PUASA I = IKHLAS
S4 = SHADAQOH
S5 = SILATURAHMI

5. Syarat dan Pantangan Formula di atas harus disertai dengan persyaratan, yang semuanya diambil dari Al-Qur'an, yaitu: kita tidak boleh melakukan perbuatan:
1. Musyrik; bersekutu dengan cara meminta bantuan jin atau arwah.
2. Kufur; gila harta, gila tahta, gila wanita, makan riba.
3. Munafik; beda antar niat, ucapan, perbuatan.
4. Memelintir ayat seperti perbuatan Ahlul Kitab. Jadi, intinya, kita hidup ini harus ikhlas, sabar menunggu pertolongan Allah dengan cara mengikuti seluruh aturan Allah, tetap berada di jalan yang lurus, berusahalah semaksimal mungkin untuk hijrah dari lingkungan yang menyebabkan kita sakit. Hal ini dilakukan kalau kita ingin selamat dunia dan akhirat. Kita tidak cukup hanya mengaku beriman dan takwa, tapi harus disertai oleh perbuatan kebajikan dan bersedekah dari sumber yang halal dan jenisnya baik dan harus ikhlas, baru kita akan dimudahkan segala macam urusan dan diberikan keselamatan oleh Allah.
Sebenarnya, kita harus malu. Terkadang, kita berdoa minta sampai satu buku panjangnya, tetapi, sebenarnya, kalau kita teliti, semua jawaban doa tersebut sudah ada dan pasti dikabulkan oleh Allah. Namun, apakah kita sudah memenuhi syarat dikabulkan doa? Minta dimudahkan segala urusan, bayar dahulu sedekah, terutama ke anak yatim. Sudah sedekah tapi masih saja belum dikabulkan, coba koreksi, apakah sumber dana kita halal atau tidak, ikhlas atau tidak? Demikian pula waktu kita shalat, minimal 17 kali baca Al Fatihah, yang juga merupakan doa minta jalan lurus, sebenarnya jawabannya sudah ada, kemudian dilanjutkan dengan ayat–ayat yang sebenarnya merupakan jawaban dari doa kita itu sendiri. Jadi, Shalat itu sangat penting, dan yang lebih penting, jaga kelakuan kita sehingga mencerminkan shalat, baru kita dianggap layak untuk selalu dilindungi.




Mun harita ..
anjeun bisa neuleuman hate kuring
aya hiji guratan dina urat hate
aya hiji suratan dina urat jajantung
nu nuliskeun yen kuring rek seja rek malire

Mun harita..
Anjeun bisa ngarti kana kaayaan kuring
Anjeun bakal apal gede na kasatiaan kuring 
Yen enya kahartos ku anjeun teh saenyana aya di kuring
Yen kajujuran hate pikeun mikanyaah anjeun
Bakal terus nanceb dina hate

Mun seug..
Anjeun percaya..

Mun seug..
Anjeun teu cangcaya..



Nyawang
Aya rasa dina diri
sumarambah dina bayah
sumoreang togencang loba kamelang
emut kapanutan nuaya di pangumbaraan
duh panutan ati jungjunan qolbu….
salira bet kumolebat bae

ieu hate kumalayang marengan rasa
Rasa kamelang,rasa honcewang
sok ingis salira teu surti
mun karep nya diri
ku kahayang dina implengan

babarengan silih lendean
dina rasa dina dada aya salira
duh junjunan panutan kalbu
bebende pamaes mepende hate

beubeureuh anu geus maneuh
iyeu diri hamo lanca-linci
hamo incah balilahan tisalira
Duh … junjunan, panutan ati …




Diudag Umur
Wanci yuswa tunggang gunung
Sagala nu ngarandapan narembongan 
Nyisit melit kana ati
Matak eungap kana ambekan

Manci yuswa tunggang gunung
Sagala kahayang narembongan
Bongan diri geus teu uni
Nyalimpang kana dir sorangan

Wanci yuswa tunggang gunung
Kahoyong tinggal kahoyong
Hoyong nyorang waktu katukang
Matak mawa kasalempang





JATINING NAPSU
Perang rongkah Bharatayuda..
geuning teu sabaraha..
Perang Badar nu kacarita..
Eta lain perang nu saenyana..

Sing emut dulur..
Perang nu enya mah nyatana ayeuna..
Nu kaunggel geuning dina hadist..
Perang nu taya wates wangena
nyaeta perang jeung napsu angkara..

Ngalayanana ulah aral jeung subaha..
Ula ukur napsu anu digugulung..
Dunya anu di udag- udag.
Raga anu katempuhan..

Sanghareupan ku sabar Ikhlas jeung tawakal..
Hirup tumarima kana kanyataan..
Samangsa urang lumampah..
Lumaku kanu dituju..

Sumerah bari ngalengkah..
Sumujud bari ku dina tahajud..
Dijejr ku ageman..
Ulah pegat pangharepan..



NAON ESENSI BAGJA ?
“Bagja téh nyaéta: santosa jeung marahmay, kuat ingetanana, wijaksana akal, tenang tur sabar dina ngajugjug naon anu dicita-citakeun”(Yahya bin Khalid Albarmaky,)

“Kabagjaan téh ayana lain ku ng
umpulkeun harta banda; tapi taqwa ka Allah – tah éta kabagjaan téh. Taqwa ka Allah téh bekel nu panghadéna keur ditabung. Ngan di sagédéngun Allah wungkul kabagjaan keur jalma anu taqwa”( Abu Hutai’ah)

“Lamun pasosoré jeung isuk-isuk hiji manusa geus ngahontal kaamanan jeung kasantosaan tina gangguan manusa séjéna, tah éta nu disebut jalma bagja” (Zaid bin Tsabit)

"Bagja téh lamun bisa ninggalkeun barang anu haram, tumut kana paréntah Allah, nyingkahan kajahatan, ngadeukeutan kahadéan. turta ngalaksanakeun paréntah agama.(Peupeujeuh sepuh)

"Bagja téh nyaéta tunduk tur patuh dina nyaluyuan aturan anu geus ditangtukeun ku Allah SWT. Tur peri-kamanusaan”. (Ibnu Khaldun)

“Bagja anu dirasakeun ku saurang tabib nyaéta lamun manéhna bisa nyageurkeun jalma anu gering bari henteu maké ubar/obat, cukup ku ngagunakeun aturan kadaharan wungkul.” (Abu Bakar Ar Razi)

“Kabagjaan jeung kanikmatan anu sajati nyaéta bisa éling ka Allah.” (Imam Al-Ghazali)




Allah SWT negeskeun dina QS. Al Anfaal (8) ayat 28 :

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Hartosna:
“Regepkeun ku maraneh, yen banda jeung budak maraneh ngan ukur fitnah, eta cocoba nu saenya-enya ti Alloh SWT nu mangrupakeun panggede2na pahala”

Panutan Ati

Aya rasa dina diri
sumarambah dina bayah
sumoreang togencang loba kamelang
emut kapanutan nuaya di pangumbaraan
duh panutan ati jungjunan qolbu….
salira bet kumolebat bae

ieu hate kumalayang marengan rasa
Rasa kamelang,rasa honcewang
sok ingis salira teu surti
mun karep nya diri
ku kahayang dina implengan

babarengan silih lendean
dina rasa dina dada aya salira
duh junjunan panutan kalbu
bebende pamaes mepende hate

beubeureuh anu geus maneuh
iyeu diri hamo lanca-linci
hamo incah balilahan tisalira
Duh … junjunan, panutan ati …




Sabda Rasulullah SAW “Arrosisie wal murtasie kilahuma fien nar” (yang nyogok dan yang disogok keduanya penghuni neraka)

KADUHUNG TARA TI HEULA
( Bian Jan 2012)

Mun seug,
Poe ieu kuring perlaya
Saawak-awak diruang ku taneuh
Singkup jeung Pacul balakecrakan bari ditincakan
Sakabeh ngalengkah naringgalkeun diri

Mun seug,
Pakaya, kawasa teu aya gunana
Kameumeut, bebene moal oge salse
Batur jeung dulur ukur cukup belengur
Lumaku diri nangtukeun jati diri

Mun seug,
Geus nyorangan dialam kubur
Hawar sora lengkah pamungkas masih keneh ngagema
Nyorangan jeung poek mongkleng
Nungguan anu rek nimbang

Nun GUSTI,
Pasihan abdi takdir hirup sakali deui ngajadi
Pasihan abdi kasempetan ngomean maneh
Pasihan abdi rek ngaraksa pakaya jadi walatra
Pasihan abdi waktos sumujud ka indung bapa
Pasihan abdi waktos kasadaya menta hampura



MAAFKAN DAKU !!!

Di bawah ini tertulis beberapa prinsip mulia Islam dalam etika berhubungan sosial dengan sesama makhluk terutama dengan seorang muslim. 

1. Memaafkan atas sebuah kezhaliman lebih baik daripada mendendam, dibawa sampai ke akhirat. 

Memaafkan seseorang yang pernah berbuat kezhaliman kepada kita, apapun bentuk kezhalimannya, adalah merupakan syariat Islam dan sesuatu yang di
perintahkan di dalam Al Quran yan Mulia serta dicontohkan di dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang agung.

Memang berat…tapi ganjaran pahalanya juga sangat besar, yaitu diampuni Allah Ta'ala dosa-dosanya.

Mari kita perhatikan ayat dan hadits mulia berikut:


{ وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [النور: 22]

Artinya: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". QS. An Nur: 22.

Ayat ini diturunkan dalam menceritakan kisah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu, yang telah bersumpah untuk tidak lagi membiayai dan menafkahi Misthah bin Utsatsah radhiyallahu 'anhu, karena Misthah radhiyallahu 'anhu termasuk orang yang mengatakan berita dusta tentang Aisyah radhiyallahu 'anha.

Dan ketika Allah Ta'ala telah menurunkan ayat yang menjelaskan tentang keterlepasan Aisyah radhiyallahu 'anha dari segala tuduhan yang telah dibuat-buat kaum munafik tersebut, kemudian keadaan kaum muslim menjadi tenang kembali, Allah Ta'ala memberikan taubat-Nya kepada kaum beriman yang ikut berkata dalam berita ini, dan didirikan pidana atas yang berhak mendapatkan hukuman atas perbuatannya.

Maka Allah dengan kemuliaan dan kemurahan-Nya, mengajak Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu untuk memaafkan Misthah radhiyallahu 'anhu, yang juga merupakan anak bibi beliau, seorang miskin yang tidak mempunyai harta kecuali hanya dari pemberian Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu saja, dan Misthah radhiyallahu 'anhu termasuk dari kaum Muhajirin serta telah diterima taubatnya oleh Allah Ta'ala, apalagi Misthah radhiyallahu 'anhu sudah mendapatkan hukuman pidana atas perbuatannya tersebut. Lalu apa sikap Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu akhirnya, mari perhatikan hadits berikut:



أَنَّ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - زَوْجَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم – قَالَتْ: "... فَلَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ هَذَا فِى بَرَاءَتِى قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ - رضى الله عنه - وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحِ بْنِ أُثَاثَةَ لِقَرَابَتِهِ مِنْهُ ، وَفَقْرِهِ وَاللَّهِ لاَ أُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِى قَالَ لِعَائِشَةَ مَا قَالَ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ) قَالَ أَبُو بَكْرٍ بَلَى ، وَاللَّهِ إِنِّى أُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِى ، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِى كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ ، وَقَالَ وَاللَّهِ لاَ أَنْزِعُهَا مِنْهُ أَبَدًا .

Artinya: "Aisyah radhiyallahu 'anha Istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Ketika Allah telah menurunkan keterlepasanku (dari berita dusta yang disebarkan kaum munafik), Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata tentang Misthah bin Utsatsah radhiyallahu 'anha, yang mana Misthah adalah orang yang beliau nafkahi, karena hubungan kekerabatannya dengan beliau dan karena kemiskiannya: "Demi Allah, selamanya aku tidak akan menafkahi Misthah sedikitpun, setelah apa yang ia katakan tentang Aisyah radhiyallahu 'anha", maka Allah-pun menurunkan ayat:

( وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ )

Artinya: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Maka Abu bakar berkata: "Tentu, demi Allah, aku menginginkan agar aku diampuni Allah Ta'ala". Maka beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang dulu beliau beri nafkah. Dan beliau berkata: "Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan nafkah untuknya". HR. Bukhari dan Muslim. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah.

Kawan pembaca…saya yakin Anda paham ceritanya…

Jadi…Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang awalnya ingin menghentikan membiayai Misthah radhiyallahu 'anhu, disebabkan Misthah radhiyallahu 'anha termasuk orang yang ikut berkata akan berita dusta tentang Aisyah radhiyallahu 'anha yang telah diprakarsai oleh kaum munafik, tetapi setelah melihat ganjaran pahala yang begitu besar dari Allah Ta'ala jika beliau memaafkan Misthah radhiyallahu 'anhu, maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pun memilih untuk mendapatkan ganjaran tersebut, yaitu berupa ampunan dari Allah Ta'ala, daripada menyimpan dendam yang tiada habisnya. Allahu Akbar!.

Maafkanlah kesalahan saudara-saudara seiman kita, apapun kesalahannya, jangan dendam tersebut selalu menyesakkan dada kita, apakah kita tidak mau mendapatkan ampunan Allah Ta'ala. Memaafkan = Mendapat Ampunan Allah Ta'ala.

2. Memaafkan harus dibarengi dengan perasaan lapang dada.

Kesempurnaan sikap memaafkan adalah jika dibarengi dengan perasaan lapang dada, yang menganggap seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Sebagian mungkin bisa memaafkan tetapi tidak bisa lapang dada, contohnya:
Si A telah memaafkan B, orang yang pernah berbuat salah kepadanya tetapi:
- si A tidak ingin lagi bertemu dengan si B,
- si A malas untuk berkumpul bersama dengan si B lagi,
- si A masih selalu mengungkit kesalahan si B,
- si A tidak mau lagi berurusan dengan si B,
- si A tidak lagi mau menolong si B, jika si B membutuhkan pertolongan,
dan contoh-contoh yang lain masih banyak. Mungkin bisa cari sendiri.

Padahal, kalau kita perhatikan ayat-ayat suci Al Quran, maka seorang muslim diperintah untuk memaafkan dengan dibarengi lapang dada, mari kita perhatikan:



{وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا} [النور: 22]

Artinya: "…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada…". QS. An Nur: 22.

Di dalam ayat yang mulia ini terdapat pelajaran yaitu: Perintah untuk memaafkan dan lapang dada, walau apapun yang didapatkan dari orang-orang yang pernah menyakiti. Lihat Tafsir al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan, karya As Sa'di rahimahullah.


{فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} [المائدة: 13]

Artinya: "…maka maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". QS. Al Maidah: 13.

Ayat yang mulia ini memberi beberapa pelajaran:
1. Sikap memaafkan yang dibarengi dengan perasaan lapang dada adalah sifatnya seorang Muhsin.

2. Seorang Muhsin keutamaannya adalah dicintai Allah Ta'ala. Dan keutamaan orang yang dicintai Allah Ta'ala adalah:

- Masuk surga.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضى الله عنه قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ « وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ». قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ».

Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Seorang lelaki pernah datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: "Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?", beliau menjawab: "Apa yang telah kamu siapkan untuk hari kiamat?", lelaki itu menjawab: "Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya", Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maka sungguh kamu kan bersama yang kamu cintai". HR. Bukhari dan Muslim.



- Diharamkan oleh Allah Ta'ala untuk masuk neraka.

عنْ أَنَسٍ رضى الله عنه قَال: قَالََ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « والله, لاَ يُلْقِى اللَّهُ حَبِيبَهُ فِى النَّارِ ».

Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Allah, tidak akan Allah melemparkan orang yang dicintai-Nya ke dalam Neraka". HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2047.



- Dicintai oleh seluruh malaikat 'alaihimussalam dan diterima oleh penduduk bumi:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، ثُمَّ يُنَادِى جِبْرِيلُ فِى السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ وَيُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى أَهْلِ الأَرْضِ » .

Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika Allah Tabaraka wa Ta'ala mencintai seorang hamba, maka Allah Ta'ala memanggil Jibril : "Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah fulan", maka Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril menyeru di langit: "Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah kalian fulan", maka penduduk langitpun mencintainya dan diletakkan baginya penerimaan di tengah-tengah penduduk bumi". HR. Bukhari.

Semoga bermanfaat.
Pancakaki téh nyaéta perenahna jelema ka jelema deui anu sakulawarga atawa anu kaasup baraya kénéh. a. Rundayan atawa Turunan - anak => turunan kahiji. - incu => turunan kadua, anakna anak. - buyut => anak incu. - bao => anakna buyut. - janggawaréng atawa canggahwaréng => anakna bao. - kait siwur => anak janggawaréng. b. Ka luhur - bapa => lalaki nu boga anak, salaki indung. - indung => awéwé nu boga anak, pamajikan bapa. - aki => bapana indung atawa bapa. - nini => indungna indung atawa bapa. - buyut => indung/bapana aki atawa nini. - bao => indung/bapana buyut. - janggawaréng => indung/bapana bao. - kaitsiwur => indung/bapana janggawaréng. c. Ka gigir - adi => dulur sahandapeun - lanceuk => dulur saluhureun. - emang/paman => adina bapa atawa indung (lalaki), - bibi => awéwé adina bapa atawa indung. - ua => lanceuk bapa atawa indung. - alo => anak lanceuk. - toa => anak adi. - kapiadi => anakna emang/bibi. - kapilanceuk => anakna ua. - incu ti gigir => incuna adi - aki ti gigir => lalaki, adina atawa lanceukna aki/nini. - nini ti gigir => awéwé, adina atawa lanceukna aki/nini. - ua ti gigir => anakna lanceuk aki/nini. - emang ti gigir => anakna adi aki/nini (lalaki) - bibi ti gigir => awéwé, anakna adi aki/nini. d. Istilah Séjénna - adi beuteung => adina pamajikan/salaki. - dulur sabrayna => dulur misan, anak paman, bibi, atawa ua. - dulur teges => dulur enya, saindung, sabapa. - indung téré => pamajikan bapa, lain anu ngalahirkeun urang. - bapa téré => salaki indung, lain anu ngalantarankeun urang lahir. - anak téré => anak sampakan ti salaki atawa pamajikan. - dulur patétéréan => anak indung atawa anak bapa téré. - cikal => anak panggedéna. - pangais bungsu => lanceukna bungsu. - bungsu => anak pangleutikna. - baraya laér => baraya nu nurutkeun pancakaki geus jauh perenahna. - teu hir teu walahir => teu baraya saeutik-eutik acan. - bau-bau sinduk => baraya kénéh, sanajan geus laér. - dulur pet ku hinis => dulur teges. - baraya => sakur nu aya pancakakina. - karuhun => luluhur, jalma-jalma anu kungsi aya lila heulaeun urang, nu ngarundaykeun urang.